Modus Penyelewengan Proyek Bantuan Perikanan

Penulis mengancungkan jempol se-pol-polnya buat pemerintah Indonesia tercinta ini karna berniat menyelesaikan masalah kemiskinan dan kesenjangan dinegara kita tercinta ini. banyak sekali dana bergulir lunak, dana hibah, dana bantuan berupa modal dan alat berkerja yang sangat membantu rakyat kita dalam berperang menghadapi ganasnya kemiskinan. Pemerintah bersinergi dengan Dinas-dinasnya, dengan pemerintah kabupaten untuk selalu berusaha menggerus yang namanya pengangguran dan kemiskinan tanpa lelah dan tanpa kata menyerah. namun itu semua rencananya, niat baiknya, keinginannya yang selalu ada saja hambatan dan halangan untuk mewujudkan. Paling tidak niatnya sudah baik lah...

Beberapa hari lalu, penulis sempat berkeliling Kalsel, dari Banjarmasin menuju suatu daerah dengan inisial TJG, yang merupakan salah satu Kabupaten kaya di Kalsel karena terkenal sebagai enghasil batubara, penulis sangat senang mendengar banyak sekali petani ikan yang mulai semangat berkerja karena mendapatkan bantuan. Bantuan berupa dana lunak sebagai modal yang rencananya akan digulirkan, bantuan bibit ikan, sampai bantuan pakan ikan. bahkan didaerah lain ada yang memberikan bantuan hibah motor 3 roda yang berguna untuk mengangkut hasil panen maupun pakan ikan.
 
Namun niat baik tersebut mendapatkan respon positif juga bagi para oknum pelayan masyarakat kita yang terhormat, bantuan- bantuan dana tersebut banyak yang menyimpang dari sasaran. Dari olah TKP hehehe... keliling mencari info, ada beberpa kejanggalan yang sangat mencolok dalam proyek ini, petugas-petugas pemakan uang haram tersebut banyak yang mencurangim institusinya dengan cara, memalsukan dokumen kwitansi pembelian pakan dengan Mark Up, gak tanggung-tanggung, dari beberapa sumber terpercaya ada yang memberikan bantuan pakan ikan apung yang seharusnya ditingkat sub agen harga pakan berisar 250.000an dalam nota minta ditulis sebesar 350.000an per sak itu, sedangkan bantuan tersebut berjumlah ratusan sak, berapa coba kerugian negara yang ditanggung???

Ada modus lain, pemberian bantuan bibit ikan, yang seharusnya dibelikan di lokal daerahnya, malah dipesankan dari jawa, memamng bibit ikan dari jawa terkenal mutunya yang bagus, namun bibit dari jawa biasanya bibit kecil seujung kuku dengan harga paling mahal 50 rupiah, sedangkan dikruskan dengan harga bibit yang biasa digunakan sebesar 5-8cm Up dengan harga 250 rupiah, memang cuman 200 perak, namun bantuan Dinas gak mungkin kan cuma seekor bibit ikan saja, pastinya puluhan ribu bahkan ratusan ribu ekor, berapa coba kerugian negara yang ditanggung???apalagi bantuan tersebut tanpa pendampingan sehingga bibit yang kecil tadi rawan mati, karena ada beberapa petani yang baru dan belum berpengalaman cara memelihara ikan, alhasil bantuan paket bibit dan pakan dadi macet, bibitnya mati, pakannya mereka jual ke petani lain. Akhirnya, bantuan mubazir kan, program gak jalan.

Ada yang lebih lucu lagi, setelah diberikan bantuan bibit sebanyak 1000 ekor per orang (1 kelompok ada kurang lebih 10 orang) dan bantuan pakan 6 sak per orang (60 sak perkelompok) bantuan tersebut berupa benih ikan seperti diatas dan berupa pakan dengan kode NO.4 (empat) tenggelam (50kg) yang berarti pakan tersebut berdiameter 4 mm yang biasa digunakan untuk makan ikan yang hampir panen. Apa mereka tidak pernah sekolah dan belajar perikanan, masak bibit ikan kecil diberikan pakan ikan dewasa? malu dong instansinya saja berjudul perikanan. dengan begitu petani penerima bantuan berbondong-bondong ke toko pakan ikan dan menukarkan pakannya, ke pakan yang sesuai (pakan bibit) yang lebih mahal hitungannya (petani nombok) bahkan ada toko pakan ikan yang nakal yang menukarkan dengan pakan terapung (30 kg) tanpa memberikan kelebihan uang (pakan No.4 tenggelam berbobot 50 kg, dengan harga rata-rata 346.000an sedangkan pakan tenggelam No.1 protein 32 berbobot 30 kg dengan harga 260.000an) jadi pedagang untung  80 ribu lebih setelah pakannya No.4 tersebut terjual (penjual pakan tersebut mengaku lebih dari 80 sak pakan No.4 ditukar dengan cara ini ditokonya). hal tersebut tentunya bukan tanpa sengaja, orang pemberi bantuan tersebut berlaku seperti itu, sebab, harga pakan No.4 lebih murah dari pakan No.1, 2, dan pakan bibit. berapa coba kerugian negara yang ditanggung???

Itu masih yang di Kab. TJG, ditempat lain banyak lagi, ada yang uangnya dibagikan kepada penerima bantuan namun fiktif, keluarganya sendiri yang menerima bantuan, pakan bantuan ke petani langsung dibeli sendiri oleh oknum dengan harga murah dan dijual lagi, bahkan bantuan di pakai sendiri tentunya dengan pembukuan yang telah disulap dengan rapi agar jika ada pemeriksaan selamatlah si Om/ Tante Oknum tersebut dan muasih buanyuak lagi modus, namanya tikus, pasti cari celah walau celahnya sudah ditutup.

Dengan masukan seperti ini, seharusnya Dinas Perikanan baik Kabupaten, Provinsi, dan Pusat sebaiknya memperkrtat pengawasan bantuan ke daerahnya, sebab banyak kebocoran tersebut tidak saja diwilayah Kalsel, diwilayah manapun pasti terjadi hal serupa. dana yang dikorupsi oknum-oknum tersebut jika untuk bantuan dan diawasi dengan sungguh-sungguh, penulis yakin, akan lebih banyak rakyat kita yang terbantu...

Aquatropica Indonesia,
Yoppie Agustian

Artikel ditulis di Amuntai-Kalsel

Sumber Gambar:
http://suaramedianasional.blogspot.com/2012/06/sidoarjo-smn-terlalu-mungkinakan.html

Komentar